Part II
Sudah tiga tahun semenjak
kepergian keluarga Andra dan kini Juna telah duduk dikelas satu SMP di sekolah
favorit di kota-nya. Masih saja dia hanya tinggal bersama dengan ibunya saja,
dan kini rumah belakangnya telah dijual ke orang lain. Juna tetap menjadi anak
yang rajin dan ber-prestasi, terbukti dia menjadi anak yang memperoleh nilai
ujian akhir sekolah tertinggi di saat dirinya sekolah dasar. Kini dia pun masih
tetap berprestasi walaupun harus bersaing dengan anak-anak dari banyak tempat
yang memiliki kemampuan yang beragam. Dia tidak hanya sendirian karena kini
dirinya cukup aktif dalam banyak ekstrakurikuler sekolah, seperti MIPA,
Pramuka, Basket, dan lainnya. Juna sengaja mengikuti banyak ekstra karena ingin
memperbanyak teman dan mengisi waktu kosongnya. Dengan memiliki banyak teman
baik cewek ataupun cowok, menjadikan rumahnya selalu sering didatangi temannya
yang ingin bermain atau sekedar kerja kelompok. Seperti saat itu….
“Kamu bisa tidak mengerjakan yang ini Jun? Aku tidak terlalu
mengerti mengenai logaritma, terlalu membingungkan bagiku. Bisa tidak kamu
jelaskan sedikit bagaimana pengerjaan-nya?” tampak salah seorang teman
perempuan sedang mendekati Juna yang sedang sibuk dengan kerjannya. Dia adalah
Luna, seorang anak perempuan yang terkenal tidak kalah pandai dari Juna. Mereka
sama-sama berada di kelas tujuh A.
“Ah, jangan bercanda Una. Kamu itu malah lebih jago matematika
ketimbang diriku. Hanya sekelas logaritma dasar pasti kamu lebih tahu.”
“Dasar kamu itu Jun.., jadi anak cowok jangan nggak peka
gitu dong. Una itu cuma ingin lebih deket dengan kamu. Iya kan itu, Una.”
Kata-kata dari salah satu temannya yang bernama Ibrahim atau biasa dipanggil
Boim membuat suasana menjadi penuh dengan gelak tawa. Luna yang mendengar itu
hanya bisa tersipu malu dan segera kembali ke tempat duduknya kembali.
Juna yang mendengar ucapan dari temannya hanya mampu tersenyum
kecil sembari matanya memandang ke arah Luna yang tampak memerah raut wajahnya.
Dia tidak berani mempertanyakan lebih jauh soal cinta karena dia tahu kalau
mereka masih terlalu dini untuk hal tersebut. Suasana kembali tenang saat ibu
Juna datang sambil membawakan baki berisi minuman dan juga makanan ringan.
Teman-teman Juna begitu senang karena setiap ada kerja kelompok dirumah Juna
dapat dipastikan mendapat banyak makanan. Suasana itu pun menjadikan mereka
betah berlama-lama di rumah Juna sehingga setiap harinya pasti rumah Juna tidak
pernah sepi dari teman yang ingin bermain ke rumahnya.
Namun hal berbeda terjadi ketika siang telah berganti malam.
Keheningan bersama sayup-sayup angin dingin yang lembut meniup daun-daun di
pepohanan, memberikan sebuah kerinduan terhadap orang-orang yang pernah
meramaikan malam yang kini berganti penuh kekosongan. Tak jarang ibu Juna
selalu mengawali tidurnya karena lelah yang mendera di waktu siang hari, atau
rasa mengantuk yang tidak bisa tertahankan. Berbeda dengan ibunya, Juna
merupakan anak yang sering tidur diatas jam 11 malam. Dia lebih memilih
mengerjakan tugas rumah lebih dahulu ataupun sekedar bermain Hp untuk membuatnya
dapat segera mengantuk.
Sudah dua tahun semenjak
dirinya memasuki SMP, kini Juna telah duduk di kelas 2. Sudah banyak yang dia
lalui dengan penuh usaha dan do’a yang ditempuh, berharap dia dapat segera naik
ke kelas tiga dan menyelesaikan sekolahnya dengan nilai yang baik. Tetapi
terkadang manusia hanya mampu berharap; memimpikan dengan banyak gambaran yang
belum tentu sesuai dengan kenyataan. Hal tersebut ternyata juga dirasakan oleh
Juna ketika dirinya sedang berada pada kelas 2 semester 3. Ketika itu, sebuah
kejadian membuatnya sadar mengenai cinta dapat datang lebih awal dari yang
telah dirinya rencanakan.
“Njirrr…besok gua harus tanding basket lawan anak SMP putra
Harapan di sore hari, tapi pada waktu yang bersamaan gua juga harus test renang
dikelasnya Pak Iwan. Gimana menurut loe Jun?” Andika terlihat kebingungan
karena dua hal yang penting terjadi bersamaan. Dia merupakan anak basket yang
merupakan teman dekat Juna sejak kelas 1 SMP. Sementara itu, Pak Iwan terkenal
sebagai guru killer yang tidak bisa diajak untuk bernegosiasi mengenai ujian
mata pelajaran yang diajarnya yaitu Olahraga.
“Yah, kenapa kamu malah bertanya kepadaku. Simple saja lah,
kalau kamu bisa dua-duanya ya ambil saja dua-duanya. Begitu saja kok
dipermesalahkan,” komentar Juna begitu ringan tanpa beban yang membuat temannya
itu kesal.
“Loe itu ngerti ndak masalah yang gua rasakan! Emang loe
pikir gua Naruto yang bisa kagebunshin terus bisa ngerjain hal ini dan hal itu
bersamaan. Loe nggak asik Bro.”
Juna yang mendengar keluhan dari temannya itu hanya bisa
tertawa kecil sembari membaca komik kesukaannya. Lantas dirinya menarik nafas
pelan dan berbicara dengan Andika membahas jalan keluar terbaik menurut
dirinya. Saat itu Juna menyarankan agar Andika mengikuti ujian renang di kelas
Pak Iwan dahulu, kemudian begitu selesai langsung meluncur untuk pertandingan
basket dengan anak-anak SMP Putra Harapan. Juna meyakinkan temannya itu kalau
dia dan teman-teman dari team basket pasti berusaha sebaik mungkin agar
mencetak poin sebanyak mungkin sampai kedatangan Andika. Juna memang mengerti
sekali kekhawatiran dari temannya itu karena Andika memang adalah kapten team
basket di sekolah mereka. Namun, karena pertandingan yang dilakukan bukanlah
pertandingan resmi, Juna berpikir kalau ujian di kelasnya Pak Iwan lebih
penting. Setelah mendengar penjelasan dari Juna, Andika akhirnya menyetujui
masukan dari temannya itu.
“Ok, Bro… gua percaya kalau loe juga temen-temen lainnya pasti
bakal bisa walaupun gua tidak ikut main. Pokoknya team kita harus menang. Awas
saja kalau nanti pas gua datang ternyata kita ketinggalan poin yang banyak,”
ujarnya memberikan semangat sekaligus ancaman pada Juna saat itu.
Ketika Andika dan Juna beranjak pergi, datang Luna dari
kejauhan dengan berlarian sambil membawa sesuatu di tangannya. Melihat temannya
berlari kearah mereka, kedua anak itu lekas berhenti. Sampai disaat Luna telah berdiri
di depan Juna dan Andika, menyerahkan sesuatu kepada Juna.
“Apa ini Una…?” Juna begitu keheranan ketika dirinya diberi
sebuah kado yang telah dibungkus rapi juga cantik dari Luna.
“Itu-itu.., itu adalah kertas kado Jun. eh, maaf, maksudku
itu adalah kado hadiah untukmu. Kamu tidak keberatan-kan kalau aku memberimu
hadiah,” ucap Luna dengan tersipu malu di depan Juna.
“Wuih….ada yang dicintai nih ternyata. Gua bakal ganggu
kalau tetap ndek sini. Ok, Bro…, gua pergi duluan ya. Jangan kaku-kaku amat
dengan cewe, yang romantis dikit nggak membuat nilai loe bakal jelek.” Andika
meledek sikap Juna yang terkenal tidak pandai mengenai perasaan orang terutama
anak perempuan yang ada rasa padanya. Ketika disindir seperti itu, Juna hanya
mampu berteriak kesal terhadap Andika yang begitu cepat menghilang dari
pandangan mata. Juna pun berbalik kearah Luna.
“Hm.., terimakasih banyak ya. Ada apakah ya didalamnya…,
bolehkah aku buka sekarang?”
“Ten—Tentu saja bisa, Jun. tetapi…, kamu jangan kecewa ya kalau
yang kuberikan bukan barang yang istimewa.” Kata Luna dengan muka memerah;
tersipu malu yang sangat.
“Memangnya… kenapa diriku harus kecewa? Hadiah dari
seseorang itu adalah sebuah bentuk apresiasi dan juga rasa sayang yang
dituangkan dalam bentuk hal yang dapat dikenang. Sekecil apapun itu, tidak ada
yang pantas bagi seseorang untuk membuat kecewa sang pemberi hadiah. Ah,
terlalu panjang ya kata-kataku?”
“Kamu memang pandai dalam berucap Jun. tiap kata-kata yang
keluar dari gita manismu sejak dahulu telah membuatku….” Kata-kata Luna
tiba-tiba terhenti dan terlihat sikap Luna kini begitu salah tingkah. Hal itu
membuat Juna semakin tertawa yang membuat Luna menjadi kesal.
“Kok malah tertawa kamu itu! Memang kamu mengerti yang
sedang aku pikirkan Jun? Jangan coba-coba berpikir kalau aku men...” lagi-lagi
ucapan Luna berhenti. Dia begitu berat mengucapkan di depan Juna.
Melihat tingkah Luna semakin aneh saja, membuat Juna tidak
tahan untuk berbicara juga. Dia kemudian meminta Luna untuk tenang dahulu
sementara dirinya membuka kado pemberian dari Luna. Ketika dibuka, Luna hanya
tersipu malu terus sedangkan Juna menunjukan wajah yang begitu bahagia.
“Luna…, bagaimana kamu tahu kalau aku begitu berharap
memiliki benda ini? Padahal yang mengetahui ini setahuku hanya ibuku saja
selama ini. Jangan-jangan kamu diam-diam bertanya kepada ibuku ya?” Juna
mengambil benda yang merupakan hadiah dari Luna, yaitu sebuah Harmonika yang
memang selalu Juna inginkan.
“Iy—iya, maafkan ya atas kelancanganku. Namun, selama ini
aku…”
“Stop…! Jangan kamu terus yang berbicara sesuatu yang
seharusnya diriku lah yang mengatakannya. Ini adalah sebuah hadiah yang
seharusnya diriku tak pantas dapatkan darimu, aku malu padamu Una. Aku malu
karena selama ini aku berlagak tidak peka terhadap rasa dalam hati ini. Tidak
peka pada perhatian yang engkau berikan dan kucoba malah terus lari darinya.
Disini akulah yang begitu bodoh, Luna. Bodoh karena terus mencoba berpikir
sesuatu kan terjadi tidak seperti yang telah kita rencanakan.” Juna berbicara
panjang lebar yang malah membuat Luna terlihat tidak mengerti terhadap
ucapannya.
“Bodoh kenapa Juna? Kenapa juga hadiah dariku tak pantas
untukmu, apakah diriku ada salah padamu?”
“Tidak Una.., kamu tidak salah sama sekali. Singkatnya, aku
bukanlah seorang yang romantis, juga bukan orang yang mudah peka terhadap
perasaan seseorang ataupun diriku sendiri. Namun, aku sekarang yakin, mungkin
kamu juga memiliki perasaan yang tidak berbeda denganku selama ini. Apakah
dirimu tidak marah kalau diriku berkata kalau aku jatuh cinta padamu, Una….”
Ucap dari Juna sembari memegang kedua tangan Luna kuat-kuat. Dia memandang
kedua mata Luna dengan tatapan yang sungguh-sungguh. Dia tidak peduli apakah dirinya terlalu
percaya diri atau bagaimana, namun dirinya ingin menuangkan perasaanya yang
dipendam di lubuk hatinya yang terdalam.
Mendengar sebuah pernyataan dari Juna, membuat Luna begitu
senang. Dia hanya mampu membalas dengan menganggukan kepalanya pelan. Melihat
itu, Juna begitu senang dan segera memeluk tubuh Luna ketika itu. Dia tidak
peduli lagi orang menyebut cinta SMP adalah cinta monyet, tapi Juna ingin
menjadikan cinta nya pada Luna adalah cinta pertama dan terakhirnya.
“Jadi selama ini kamu juga menaruh rasa padaku ya, Jun?”
“Iya.., itu benar sekali. Lebih tepatnya semenjak kita
melakukan Masa Orientasi Pramuka saat awal kita masuk SMP dulu. Aku kagum melihatmu
yang bersikap saling menyayangi juga baik hati. Kamu masih ingat tidak pada
waktu apa itu?”
“Waktu kita MOG? Yang mana lho Jun?” Kata-kata Juna membuat
Luna semakin begitu penasaran. Mereka berdua lantas duduk di bangku di bawah
pohon yang rindang sebagai payung yang menenangkan. Luna begitu senang disaat
sesekali Juna memainkan harmonika pemberiannya.
“Aku berpikir kalau itu hanya akibat rasa kagumku padamu,
sehingga hatiku menjadi berdegup begitu kencang. Aku yang tidak mengerti
apa-apa soal cinta, tentu menganggap hal tersebut sebagai perasaan yang lewat
sahaja. Saat itu, saat dimana kamu memberikan makananmu kepada seorang anak
yang tidak dibawakan makanan oleh orangtuanya karena suatu hal. Kamu terlihat
begitu cantik; bidadari yang mampir ke kelasku, begitulah pikirku ketika itu.
Aneh kan?” cerita Juna mengingat kejadian awal mereka masuk SMP. Juna dan Luna
tampak tertawa-tawa sendiri saat mencoba kejadian dua tahun yang sudah lewat
tersebut.
Mereka berdua lantas berdiri lalu berjalan menuju ke tempat
pertandingan basket dengan bergandengan tangan. Juna begitu bahagia dan mungkin
hal yang serupa juga dirasakan oleh Luna. Sore hari itu, langit yang masih biru
cerah dengan awan-awan yang menghiasi menjadi saksi cinta yang bersemi di hati
dua remaja yang saling jatuh cinta. Cinta yang ditanam disaat masih muda dan
berharap bakal tumbuh baik hingga dewasa yang diharapkan menghasilkan buah-buah
penuh kisah bahagia.
Komentar
Posting Komentar