Part III
“Ayo,
Juna…kamu pasti bisa!!” Luna memberikan semangat kepada Juna yang saat itu
sedang bertanding basket melawan team SMP Putra Harapan. Poin sementara masih
80-67 dimana SMP putra Harapan masih lebih unggul sedangkan pertandingan telah
berjalan setengah jalan. Juna dan teman-teman dari team basket SMP Citra Bangsa
masih terus berusaha menambah angka agar bisa menang atau setidaknya membuat
poin menjadi berbeda tipis. Beberapa anggota team sedikit kurang lepas dalam
bermain dikarenakan mereka merasa tidak yakin bisa menang tanpa ada kapten
team, yaitu Andika. Melihat hal tersebut, Juna meminta waktu sebentar untuk
minum dan juga mengatur strategi.
“Kenapa
kalian berdua tidak semangat, teman..! Apakah ini disebabkan karena Andika
tidak bermain bersama kita?” Juna mengatakan hal tersebut sambil melemparkan
dua botol air mineral kepada Irwan juga Yogi, yang mana merupakan anggota team
basket Citra Bangsa. Juna menganggap permainan dua temannya itu kurang total
sejak awal permainan.
“Itu
benar sekali. Aku saja yang anak peremuan bisa tahu kalau mereka berdua kurang
semangat sepanjang permainan. Ada apakah dengan kalian berdua? Bisakah kalian
jelaskan kepada teman kalian lainnya.” Kata Luna yang berjalan mendekati para
personil team basket sekolahnya yang sedang istirahat 5 menit di tengah
pertandingan. Dia membawakan handuk dan menyerahkan kepada para anggota team.
Tentu saja alasannya bukan hanya itu dirinya berada disana. Dia menyerahkan
handuk serta membawakan baju ganti untuk dipakai Juna dalam pertandingan.
“Wah…,
nggak adil ini sepertinya. Kalau hanya Juna yang dikasih baju, aku nggak bisa
semangat lagi dalam bertanding. Apakah kalian berdua tidak lepas bermain karena
melihat Juna dan Luna jadian ya? Bener begitu tidak, Irwan, Yogi?” celetuk
Yudha yang terkenal suka keterlaluan dalam berbicara.
“Apa
yang loe katakana itu Yud! Gua nggak mengaitkan ini dengan hubungan mereka
berdua. Gua saja nggak tahu kapan mereka jadian, ini asli karena emang masalah
permainan. Gimana kita bisa menang kalau ndak ada Andika disini. Bukankah
begitu juga menurut loe, Wan!” ujar seorang Yogi, yang merasa tersinggung
dengan omongan temannya. Dia merasa ucapan Yudha berlebihan dan tidak masuk akal.
“Aku
setuju banget itu. Lihat! Kita sudah ketinggalan nyaris 20 angka, dan sekarang
Andika belum terlihat ada disini. Aku takut kalu kita pasti bakalan kalah,”
sahut Irwan menyambung ucapan Yogi.
Mendengar
yang diucapkan temannya, membuat Juna hanya bisa mengelus dada saja. Dia saat
itu sadar, kalau kedua temannya tersebut masih belum ada jiwa kebersamaan
begitu juga keyakinan dalam sebuah team. Bahkan ketakutan telah menghantui
mereka lebih dahulu ketika seseorang yang dianggap kapten tidak ada memimpin
mereka.
“Ah..,
harus bagaimana ya enaknya. Aku mengerti sekali kekhawatiran kalian, tapi kita
tidak bisa hanya diam saja tanpa berusaha, teman. Ingat, sekarang ini Andika
juga berjuang agar dapat lolos ujian di kelas Pak Iwan. Apakah kita hanya bisa
membuat Andika merasa terus kuatir jika kita bermain tanpa adanya dirinya?
Teman seperti apakah itu.” Kata Juna memberikan nasihat yang diharapkan dapat
membuat teman satu teamnya sadar arti sebuah ikatan bernama “Team’.
“Apa
yang diucapkan oleh Juna masuk akal sekali. Bagaimana kalian dapat berkembang
jika terus merasa harus ada Andika ketika bertanding? Apakah dia itu seseorang
yang tidak mengenal sakit atau hal lainnya. Kalian harus membuat dia bangga
memiliki rekan satu team seperti kalian ini. Ayo! Bangkitlah kawan-kawan, kita
kalahkan Putra Harapan dengan usaha dan semangat untuk menang. Mari kita
persembahkan kemenangan ini untuk sekolah juga team basket kita.” Sahut Luna
membakar semangat para anggota team. Semua yang mendengarkan merasa ucapan Luna
itu memang benar.
“Pacar
Loe ternyata nggak kalah juga kalau dibandingkan loe. Kalian berdua bener-bener
punya lidah setan, eh lidah malaikat maksud gua. Pinter ngomong sesuatu yang
ngebuat orang yang denger jadi percaya dan yakin dengan omongannya.” Komentar
Yudha dengan berbisik di telinga Juna.
“Kamu
itu bicara kearah mana maksudnya. Sudahlah, mendingan kita segera bersiap untuk
bertanding. Sudah hampir lima menit kita minta waktu istirahat, selanjutnya
kita harus semangat dan menang.”
Pertandingan
dilanjutkan kembali dengan semangat untuk menang telah tertanam di hati setiap
pemainnya. Yogi juga Irwan yang sebelumnya tidak bersemangat, ketika itu
menjadi begitu terbakar. Mereka benar-benar bermain dengan total untuk menang
walaupun pertandingan saat itu bukanlah laga resmi, hanya laga persahabat
diluar sekolah. Mendekati babak-babak terakhir, poin yang didapat saling
mengejar satu dengan yang lain. Ketika waktu hampir habis, Juna dengan gesitnya
mendapatkan bola yang dikuasai lawan dan segera melakukan tembakan 3 poin.
Dengan hasil itu, nilai berubah yang mana dari 89-90 akhirnya bisa berganti
menjadi 92-90. Hasil itu tetap tidak berubah sampai habisnya waktu dan
pertandingan dinyatakan selesai. Tentu saja semua anggota team langsung saja
melompat setinggi-tingginya atas kemenangan yang didapat. Mereka nyaris tidak
menduga kalau dapat memenangkan pertandingan tanpa ada campur tangan Andika
selaku kapten team. Semua saling berpelukan satu dengan lainnya, tidak lupa
berterimakasih kepada Juna dan juga Luna. Kata-kata dari mereka berdua-lah yang
mampu menyadarkan mereka dan membakar semangat untuk menang.
“Selamat
ya! Kalian memang team yang hebat walaupun tanpa ada kehadiran kapten
team-nya,” ujar kapten team SMP Putra Harapan yang bernama Dewa. Dia memberikan
ucapan selamat sambil menyalami setiap pemain dari SMP Citra Bangsa.
“Tidak, itu
tidak benar. Kami pikir kalian lah yang dapat kami katakan lebih hebat.
Permainan kalian, taktik, juga kerjasama antar pemain begitu bagus daripada
kami. Pasti kami berharap dapat bertemu kalian lagi dalam pertandingan resmi
nantinya.” Kata Juna dengan memuji team Putra Harapan yang memang notabene
adalah team unggulan di Kota Nganjuk.
Setelah
saling berjabat tangan, semua pemain SMP Putra Harapan segera pulang ke rumah
masing-masing. Ketika itu para anggota team basket Citra Bangsa juga bergegas
untuk pulang juga. Tiba-tiba dari kejauhan datang Andika dengan menaiki sepeda
motornya. Dia tampak terlihat terburu-buru karena mungkin dirinya takut jika
pertandingan memberikan hasil tidak bagus karenanya.
“Bagaimana
pertandingannya? Kenapa sudah sepi begini, dimana anak-anak dari SMP Putra
Harapan? Juna, bisakah kau memberitahuku bagaimana hasil pertandingannya.”
Andika melempari Juna dan teman-temannya dengan banyak pertanyaan. Dia terlihat
sekali merasa kuatir dengan teamnya.
“Kita
kalah, Bro. kita kalah semenjak awal, bahkan sepanjang pertandingan
berlangsung.” Ucapan dari Juna cukup membuat Andika terduduk lemas di lapangan
dengan tidak berdaya. Dia hanya mengacak-ngacak rambutnya sembari menyesali ketidakhadirannya
untuk ikut membantu dalam melawan anak Putra Harapan. Dia terus menggerutu
kalau kekalahan yang didapatkan teamnya, karena ketidakmampuannya menyelesaikan
ujian di kelas Pak Iwan tepat waktu. Kata-kata penyesalan dan rasa bersalah
yang diucapkan oleh Andika itu malah menjadi tontonan bagi teman-temannya.
Yudha sendiri malah tertawa terbahak-bahak, melihat sikap Andika yang biasanya
jaim dan sok keren terlihat seperti itu.
“Sudahlah,
kamu tidak perlu terlalu memikirkan soal game tadi. Aku dan teman-teman dapat
memaklumi soal keterlambatanmu itu. Lebih baik kita segera pulang dan
istirahat. Ayo teman-teman kita lekas pulang, sudah menjelang senja sepertinya.”
Juna sepertinya ingin mempermainkan perasaan temannya tersebut. Teman-teman
lainnya pun mengikuti langkah Juna dan lekas berjalan meninggalkan Andika yang
masih berdiri di lapangan basket sendirian. Andika tidak banyak berkata lagi karena
dirinya mengerti pasti kalau temannya marah padanya; membuat mereka kecewa
memiliki kapten yang tidak bisa diandalkan. Di saat semua temannya tampak
ber-akting meninggalkan-nya, di belakang nya malah masih berdiri Luna dengan
hanya terdiam dengan senyum malah terlukis di bibirnya. Andika baru menyadari
itu ketika Luna membuka obrolan dengannya.
“Andika..,
kenapa kamu masih ada disini? Lekaslah pulang bersama teman-temanmu yang
sekarang mungkin menunggumu di depan. Apakah engkau merasa langsung berpikir
mengecewakan temanmu dan mereka langsung membencimu begitu saja, padahal baru
sekali ini. Begitukah seorang kapten team basket kita?” Luna berbicara di
belakang Andika yang tetap masih duduk termenung penuh rasa bersalah terlihat. Dia
sebenarnya tidak ingin ikut dalam drama yang dilakukan untuk Andika, namun
karena desakan Juna akhirnya dirinya pun mengiyakan hal tersebut.
“Gua
udah gagal, Una. Seharusnya gua nggak Cuma ikut senang pas kita menang, tapi
waktu kalah pun semestinya gua juga ada bareng mereka. Apalagi kekalahan yang
terjadi, mungkin karena gua nggak ada bersama mereka. Kapten apa-apaan gua ini,
bisakah loe ngasih gua masukan Una?” Akhirnya Andika menyambut kata-kata dari
Luna. Dia berbalik ke arah temannya itu dengan berdiri dan memegang kedua
pundak Luna dengan tangannya.
Meskipun
Andika bukan teman satu kelas dengannya, Luna sedikit banyak mengetahui
bagaimana dan seperti apakah dia itu. Sebagai kapten team basket, tentu saja Luna
tahu persis kalau kemampuannya sudah tidak perlu ditanyakan. Ketika dimintai
pendapat, maka Luna pun hanya memberikan masukan dan nasihat semampunya. Dia mengingatkan
pada Andika agar sebagai kapten bukan hanya sekedar strategi permainan,
kemampuan, dan juga kemenangan. Luna memberikan saran agar Andika juga menyampaikan
kepada teman-temannya agar percaya diri dengan kemampuan masing-masing dan
tidak bergantung pada individu tertentu. Dia tahu pasti kekompakan itu sangat
perlu, tapi tiap anggota harus yakin mereka bisa. Mendengarkan ucapan dari Luna
menjadikan Andika sadar kalau selama ini dirinya hanya mengutamakan latihan
fisik tanpa juga membangun kekuatan mental pada tema-temannya. Dia kemudian
berterimakasih kepada Luna yang telah memberinya nasihat yang sangat penting
bagi sebuah team.
“Gua
lihat kalau loe itu sama seperti Juna soal bicara, bener-bener cocok banget kalian
berdua itu. Terimakasih atas saran loe tadi dan besok gua bakal minta maaf pada
teman-temen basket gua sebelum latihan. Biar saja untuk hari mereka marah pada
gua, toh gua emang salah. Andai saja gua nggak sering bolos ujian praktek pas
kelasnya Pak Iwan, pasti nggak bakal begini ending-nya,” ujar Andika menyesali
yang telah terjadi padanya. Dia pun segera menyarakan pada Luna untuk segera
pulang karena langit sudah gelap. Dia juga menawarkan diri untuk mengantarkan
kekasih Juna itu pulang ke rumah karena khawatir jika sendirian di jalan.
“Err…tidak
perlu Kapten! Aku tadi kesini bareng Juna dan pulang juga bakal diantarkan
olehnya. Jadi kamu tidak perlu repot-repot mengantarkanku pulang,” sahut Luna
dengan lantang.
“Loh…
kok bisa? Sekarang saja loe ditinggal Juna pulang, terus loe mau jalan sendiri…?”
“Hm…benar
juga, aku lupa ingin memberitahu sesuatu padamu, Kapten. Sebenarnya Juna berkata
supaya aku tidak memberitahu soal ini padamu sampai besok mereka sendiri yang
memberitahukan.” Kata Luna yang seketika membuat Andika begitu heran dan
penasaran perihal apakah itu.
“Sebentar…,
gua disini seperti mencium bau konspirasi terselubung. Jangan bilang hari ini
team basket kita nggak kalah, bisa saja kita main imbang atau mungkin malah
menang.” Andika menduga-duga dengan menunjukan wajah kesal karena dirinya
merasa dikerjain teman-temannya.
“Hahaha…
iya Kapten, yang sebenarnya terjadi kita memang menang melawan SMP Putra
Harapan. Walaupun menang tipis nilainya,” jelas Luna menjawab rasa penasaran
Andika.
“Wooow….
Gitu ya, mereka beraninya ngerjain gua. Besok bakal gua ospek mereka semua biar
tahu rasa! Terus loe juga mau saja diajak berbohong Una!” Raut wajah Andika
yang awalnya merasa sedih kini berubah kesal bahkan mungkin marah. Dia juga
menuangkan kekecewaan pada Luna yang mau saja diajak mengerjainnya.
“Dia
nggak bohong Broo!” Sahut Juna yang suaranya terdengar dari kejauhan. Dia terlihat
berjalan bersama teman-teman dari team basket Citra Bangsa. Andika begitu
terkejut karena mereka ternyata masih belum meninggalkan lokasi lapangan
basket.
“Ya gini
jadimya kalau punya pacar nggak bisa diajak berbohong. Disuruh ikut pulang biar
Andika sendirian malah nemenin kapten team kita ini, ngasih tahu segala lagi
soal pertandingan tadi.” Celetuk Yudha memasang wajahnya ke muka Juna.
Melihat
rekan-rekan satu teamnya berkumpul, langsung saja Andika meminta penjelasan
soal sikap yang merekan lakukan padanya. Apalagi dia sudah bersiap untuk
memberikan bogem mentah ke perut Juna. Dia pikir itu semua pasti rencana Juna,
sehingga membuatnya menjadi sedih dan penuh dengan rasa bersalah.
Juna sudah
siap untuk menerima luapan kemarahan temannya itu. Tetapi, ketika hampir
memukul perut Juna; Luna hanya bisa berteriak keras meminta Andika untuk
menghentikan perbuatannya itu dari kejauhan. Irwan dan Yogi, yang mana berada
bersama mereka juga langsung saja menghadang pukulan Andika itu dengan tangan
mereka.
“Loe
berdua juga mau gua pukul!! Setelah ini pasti kalian dapat jatah juga,” sahut
Andika dengan raut muka marah. Kekesalan tercermin sekali dari sikapnya saat
itu.
“Dik! Juna
nggak salah, begitu juga pacarnya yang ada disana. Mereka berkata jujur, kita
memang kalah, Dika. Kita kalah lawan anak PH, entah itu dalam strategi,
kekompakan, juga kemampuan. Kami berdua lah yang dari awal bermain nggak
semangat untuk bertanding. Kami berdua, gua juga Irwan, berpikir bakal kalah
kalo loe nggak ada. Karena perbuatan kami itu, team kita mainnya kurang lepas,
nggak bisa kompak karena kami berdua yang nggak sinkron.” Jelas Yogi, berharap
temannya itu dapat memahami.
“Semua
ucapan Yogi itu benar Dik. Kami lah yang salah dimana nyaris membuat tema kita
kalah. Tapi asal kamu tahu saja, ketika itu Juna dan juga Luna, mereka berdua
memberikan nasihat yang membuat kami sadar kemudian berusaha untuk bermain
sekuat mungkin, tidak peduli menang atau kalah yang penting kami berusaha,”
tambah Irwan menegaskan ucapan dari temannya kepada kapten mereka itu.
Mendengarkan
penjelasan dari dua temannya itu, membuat Andika menurunkan tangannya yang
sebelumnya ingin memukul perut Juna. Bukan hanya Irwan dan Yogi, teman lainnya
pun memberikan penjelasan yang akhirnya membuat Andika mengerti. Dia pun lekas
meminta maaf kepada Juna dan Luna, yang mana karena keegoisannya lah yang
membuat dirinya terkadang lupa kalau banyak kesalahan telah diperbuat olehnya;
sombong, terlalu percaya diri berlebih, tidak mencoba mengerti perasaan orang
lain, itulah yang dirinya sesalkan.
“Tidak
perlu kau pikirkan Teman, aku mengerti bagaimana beban yang kau pikul sebagai
kapten. Jika memang kami salah, tentu saja hak-mu untuk menghukum atau
mengingatkan kami. Lalu, soal yang terjadi hari ini, tidak perlu kamu pikirkan
lagi ya. Hehehe….kami pribadi minta maaf, tapi semoga yang diucapkan Luna
untukmu bisa kamu cerna.” Pesan Juna panjang lebar.
“Loe
pikir makanan Bro, hahahaa. Ya udah, segera kita pulang, udah malam sekarang. Luna
tadi katanya maunya loe yang ngantarkan, sama gua dia nggak mau,” celetuk
Andika lucu. Luna yang sudah berada disamping Juna hanya mampu tersenyum dengan
pipi yang memerah tanda tersipu malu.
Pertandingan
basket melawan SMP Putra Harapan saat itu, bukan hanya kemenangan dari laga
yang diterima oleh Juna, tetapi juga kemenangan hatinya mendapatkan Luna
sebagai kekasihnya. Mereka berdua lants menuju ke parkiran untuk mengambil
sepeda milik Juna. Saat memerisksa barang-barang di dalam tas-nya tiba-tiba
Juna begitu kebingungan seperti ada yang hilang.
“Kenapa
Jun? Apakah ada yang kamu cari,” Tanya Luna.
“Harmonika…Harmonika
pemberian darimu tidak ada di dalam tas-ku….” Jawab Juna pelan.
Komentar
Posting Komentar