Part IV
“Jangan cemberut seperti itu dong…, tenang
saja, pasti nanti bakal ketemu. Itu bukankah hanya sebuah harmonika, Juna.
Kalau pun nanti tidak ketemu, kita bisa beli yang lainnya,” ujar Luna
menghibur. Dia berharap Juna tidak terlalu memikirkan perihal harmonika
pemberiannya yang hilang tersebut.
“Tapi benda
itu adalah hadiah darimu Luna.., tidak tergantikan nilainya. Kalaupun kita beli
lagi, maka hal tersebut bakal berbeda arti nantinya. Kenapa kamu tadi malah
menghentikan diriku yang masih berusaha mencari harmonika darimu?”
“Kenapa??
Kamu tidaklah lihat ya Juna, ini sudah jam berapa. Aku mengerti sekali kalau
harmonika itu sangat berharga, namun jangan sampai benda itu menjadi segalanya
bagimu. Cintaku padamu tidak lah sekedar harmonika, cintaku ada disini…dalam
hatiku ini.” Luna menaruh kedua tangannya di atas dadanya. Kemudian dirinya
meminta Juna menunduk sedikit lantas dengan pelan mencium keningnya juga kedua
pipinya dan terakhir adalah bibir kecil Juna.
“Oeee…cukup
Luna…., kamu tidak malu ya? Ini ‘kan di depan rumahmu. Bagaimana jika ada yang
melihat, sedangkan kita masih anak SMP. Nanti dipikir kita berbuat hal-hal yang
buruk takutku,” kata Juna pelan sambil melihat kanan-kiri. Saat itu dirinyalah
yang benar-benar menjadi salah tingkah. Hal yang dilakukan Luna padanya
merupakan ciuman pertama baginya. Dia bahkan tidak mengingat kapan terakhir
ibunya mencium dirinya.
“Yah mau
bagaimana lagi, kalau aku tidak melakukan hal seperti ini, kamu pasti tetap
menjadi seperti anak yang kebingungan kayak tadi. Aku tidak ingin kamu terlalu
sedih hanya karena sebuah harmonika. Kamu mengerti itu pastinya Juna,” ucap
Luna begitu terdengar bijaksana. Dia ingin memberitahukan pada Juna kalau
cintanya benar-benar tulus.
Setelah
mereka berdua selesai dengan masalah harmonika yang hilang, Juna kemudian
mengantarkan Luna sampai ke depan pintu. Dia ingin meminta maaf kepada ibu Luna
karena terlambat mengantarkan anaknya pulang. Saat pintu dibuka oleh ibu Luna,
Juna dengan penuh sigap segera meminta maaf atas kepulangan anaknya yang
terlambat karenanya. Ibu Devi yang merupakan ibu Luna hanya diam saja, lantas
segera menyuruh anaknya untuk masuk ke rumah dan segera mandi. Begitu melihat
anaknya sudah berjalan ke kamar mandi, Ibu Devi segera berbicara dengan Juna.
“Kamu
yang namanya Arjuna ya?” Tanya Bu Devi dengan nada sinis yang membuat Juna
merasa ada yang aneh dibalik pertanyaan ibu Luna itu. Memang dirinya tidak
pernah bertatap muka secara langsung dengan ibu Luna sekalipun, hanya sepintas
saja tanpa bicara banyak.
“Iy—Iya
Bu. Maafkan atas keterlambatan saya mengantarkan anak Ibu untuk pulang. Ini
dikarenakan ada pertandingan basket melawan SMP Putra Harapan dan Luna datang
untuk memberikan semangat pada team basket sekolahnya,” jelas Juna dengan tetap
tersenyum di depan ibu Luna, meskipun dirinya mengerti kalau ibu Luna terlihat
marah padanya.
“Kamu
itu ya…, jangan coba-coba memberikan alasan yang tidak masuk akal! Anakku tidak
mungkin mau ikut dalam permainan yang kamu katakan itu. Pasti kamu yang
mengajaknya, benar begitu ‘kan,” kata ibu Luna dengan nada kasar pada Juna.
“Maafkan
saya jika lancang, namun semua yang saya ucapkan memang benar adanya Bu.
Silahkan kalau ingin ditanyakan langsung kepada putrinya. Kita tidak pergi
kemana-mana dan langsung pulang begitu pertandingan selesai,” jelas Juna
kembali memberikan penjelasan agar Ibu Luna mengerti.
“Sudah….
Sudah!! Ibu sudah sering melihat anak kecil sepertimu berbohong jika berbuat
salah. Apalagi kamu itu anaknya Aswan ‘kan. Ibu sudah tidak kaget kalau kamu
mau mendekati anak Ibu. Ibu ingatkan ya, jangan sekali-kali mencoba
mempermainkan hati anak Ibu dan membuatnya dirudung kesedihan seperti yang
dilakukan ayahmu pada ibumu itu. Pokoknya, ibu melarang anak Ibu pacaran denganmu,
apalagi sekarang masih SMP.” Ujar ibu Luna panjang lebar kepada Juna yang hanya
terdiam bingung tidak mengerti perihal ucapan Bu Devi tersebut.
Juna
yang merasa tidak mendapat sambutan baik dari ibu Luna lekas meminta
mengundurkan diri untuk pulang. Bu Devi pun sepertinya memang menginginkan dirinya
untuk pulang sedari awal. Begitu Juna berjalan ke tempat sepedanya ditempatkan,
belum sampai dirinya pergi tampak pintu rumah sudah ditutup oleh ibu Luna. Juna
pun lekas mengayuh sepedanya dan berharap ibunya tidak mengkhawatirkan dirinya
di rumah. Selama di perjalanan, dirinya masih terus berpikir soal ucapan ibu
Luna padanya. Dia ingin segera sampai rumah dan ingin menanyakan kepada ibunya
riwayat dari ayahnya. Kenapa seorang Ibu Devi, yang bertemu saja sangat jarang
dapat mengetahui siapa ayahya dan mengatakan dengan seenaknya kalau ayahnya
adalah orang yang berperilaku tidak baik.
“Ada apa
sebenarnya, ya Tuhan. Kenapa ibu Luna begitu terlihat membenciku padahal kami
masih pertama kali ini bertemu. Kenapa juga beliau tahu siapa ayahku dan
mengapa begitu membenci ayah? Ya Tuhan…. Masalah apakah ini.” Gumam Juna di
sepanjang jalan di malam itu.
………
Sesampainya
di rumah, ibu Juna langsung memeluk anaknya ketika dirinya melihat anaknya ada
di depan pintu. Bu Lastri begitu lega melihat anaknya datang dengan selamat.
Ibu Juna begitu khawatir, hal itu dapat dimengerti ketika sang ibu itu
memeriksa seluruh tubuh anaknya apakah ada luka atau tidak. Sang ibu lantas
segera meminta anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan segera mandi kemudian
makan malam. Juna yang melihat begitu sayangnya sang ibu padanya, hanya mampu
memberikan pelukan sebagai rasa terimakasih atas cinta ibunya pada dirinya.
Juna lantas segera menjalakan perintah ibunya, dia memilih mengurungkan dahulu
pertanyaan yang ada di benaknya. Juna tidak ingin ibunya lebih terbebani
kareanya di malam itu.
“Bu,
makan malam kita hari ini?” Tanya Juna dengan kembali ke tempatnya berada dan
memeluknya lagi.
“Duh…
anaknya ibu ini kenapa sih. Tingkahmu malam ini seperti anak kecil saja Nak.
Sana, segera mandi dahulu, ibu sudah buatkan empal kesukaanmu. Oh iya, nanti
ceritakan kepada ibu kenapa pulang telat ya Nak,” ujar sang ibu dengan
mengelu-ngelus dahi anaknya.
“Ah,
apakah tidak boleh kalau seorang anak sedikit manja kepada ibunya? Juna sayang
banget dengan ibu, banget pokoknya. Iya Bu, nanti Juna ceritakan pertandingan
basket tadi. Oh iya, hp Juna dari siang sudah kehabisan baterai, jadi pasti
tidak bisa dihubungi. Juna minta maaf ya Bu,” jelas Juna sambil menyipitkan
matanya serta tersenyum kecil.
“Ibu
mengerti kok Nak. Tidak perlu meminta maaf, ibu sudah senang melihat anaknya
pulang dengan selamat tanpa ada yang kurang sedikitpun.” Ibu Juna kemudian
menyuruh anaknya segera mandi dan berganti pakaian, sedangkan dirinya menutup
pintu rumah lebih dahulu.
Setelah
berganti pakaian, Juna segera duduk di meja makan yang sudah disiapkan oleh
ibunya. Sang ibu juga ikut duduk bersama anaknya, kemudian mereka menikmati
makan malam hari itu. Begitu acara makan malam selesai, ibu Juna meminta
anaknya bercerita soal kejadian seharian itu dari anaknya. Juna menceritakan
dari awal pertandingan sampai selesai, tidak lupa juga dirinya sedikit
menyinggung mengenai Luna, namun dirinya tidak mengatakan kalau mereka berdua
telah pacaran.
“Siapa
tadi namanya Nak? Luna ya.., Nak Luna yang juga pernah kamu ajak ke rumah kita
untuk kerja kelompok itu ya. Wah, ibu tidak menyangka kalau teman kamu itu suka
basket juga, walaupun sekedar mendukung. Selain cantik, pandai, ternyata dia
juga pengertian.” Puji sang ibu terhadap Luna.
Ketika
dipuji seperti itu, Juna hanya tersenyum puas dan sesekali dirinya mengambil
perkedel buatan ibunya. Waktu itu tidak sengaja Juna menanyakan apakah ibunya
setuju jika dirinya berpacaran dengan Luna, sang ibu tiba-tiba hanya terdiam.
Ibu Juna hanya mengatakan kalau anaknya itu masih kecil dan belum saatnya
memikirkan hal semacam itu.
“Begitu
ya, baiklah, Juna mengerti kalau ibu belum mengijinkan Juna untuk pacaran.
Tetapi, kalau teman dekat dahulu tidak masalah ‘kan Bu,” celetuk Juna bercanda
kepada ibunya.
“Kalau
sekedar teman dekat…, yah, tidak jadi masalah, selama dijaga dan harus
hati-hati jangan sampai kelewatan. Ingat, kalian masih SMP, tidak perlu
berpikir soal pacaran yang belum jelas. Mending kalian belajar yang rajin biar
segera naik kelas dan lulus,” kata sang ibu menyarankan.
“Iya Bu,
pasti kalau itu. Jangan khawatir,” jawab Juna meyakinkan ibunya. Sang ibu
lantas segera berdiri dan membereskan meja makan. Tidak lupa Juna ikut membantu
membawakan piring-piring yang kotor ke dapur. Hal seperti itu telah menjadi
kebiasaan Juna karena di rumah hanya dirinya dan ibunya, tidak ada yang lain. Ikut
membersihkan rumah atau semacamnya bukan lah pekerjaan yang aneh bagi dirinya.
Ketika
sampai di dapur, tanpa sengaja Juna menanyakan soal riwayat ayahnya pada ibunya,
padahal dirinya sudah berencana ‘kan bertanya soal ayahnya esok harinya. Di saat
itu, tiba-tiba mangkuk yang berisi Soto Ayam buatan ibunya terjatuh dari
pegangan sang ibu hingga pecah. Sang ibu tentu saja langsung terkejut dan
segera jongkok untuk membereskan pecahan-pecahan yang ada. Juna pun ikut
membantu ibunya, namun dirinya melihat sesuatu yang aneh pada raut wajah
ibunya. Tampak sekali di wajah ibunya rasa takut, juga kesedihan yang begitu
dalam terpancar. Segera saja Juna meminta maaf jika yang terjadi saat itu
dikarenakan pertanyaan darinya.
Sang ibu
kemudian kembali tersenyum di hadapan anaknya dan menyapu lembut rambut anaknya
tesebut. Ibunya mengatakan kalau yang membuat dirinya menjatuhkan mangkuk sayur
itu mungkin karena kelelahan saja. Mendengar ucapan ibunya, Juna segera
menyarankan sang ibu untuk segera istirahat di kamar agar lebih baik, sedangkan
dirinyalah yang membereskan baik bekas pecahan mangkuk di lantai ataupun
lainnya sisa makan malam.
“Tidak
perlu, Nak! Kamu ‘kan sudah begitu lelah seharian ini, jangan ditambah lagi.
Biarlah ibu yang membereskan semuanya, kamu yang istirahat sana,” ujar sang ibu
mencoba menolak bantuan dari anaknya.
“Tidak
masalah Bu, biar Juna yang bereskan semua ini. Percaya dah ‘sama Juna, pasti
segera selesai dalam waktu singkat. Jadi, lebih baik ibu segera minum obat
kemudian lekas mengistirahatkan badan di kamar. Mungkin ibu pusing karena tadi
memikirkan anaknya yang ganteng ini kok nggak pulang-pulang,” kata Juna sambil
menghibur hati ibunya yang terlihat sedih. Dia tahu pasti kalau sang ibu
menjatuhkan mangkuk yang dibawanya itu dikarenakan mendengar pertanyaan darinya
perihal sang ayah.
Begitu
melihat keseriusan dari sang anak, ibu Juna pun tidak mampu menolak niat baik
sang anak. Sang ibu lantas segera menuju ke kamarnya, tetapi sebelum itu,
dirinya mengingatkan sang anak untuk segera istirahat juga ketika sudah
selesai. Juna memberikan dua jempol-nya pada sang ibu tanda mengiyakan
perkataan ibunya tersebut.
“Oh iya,
Nak, ada yang ingin ibu sampaikan padamu,” sahut sang ibu kepada Juna yang
masih mencuci piring dan barang kotor lainnya.
“Loh,
kok malah jalan ke sini lagi? Segera minum obat dan istirahat saja di kamar,
Bu. Jangan takut, Juna usahakan semua bersih dan tidak ada barang yang bakal
pecah kok,” ujar Juna pada ibunya yang malah kembali masuk dapur kemudian
mendekati dirinya.
“Ibu
mengerti, Nak. Setelah ini ibu bakal minum obat seperti yang kamu sarankan, tapi
ada yang ingin ibu katakan sebentar padamu Nak,” ucap sang ibu memandang wajah
anaknya dengan penuh harap.
“Sudahlan
Bu. Jangan memikirkan pertanyaan Juna tadi. Jika memang membuat ibu merasa
sedih, lebih baik jangan diingat lagi. Juna ‘kan sudah meminta maaf pada ibu,
karena itu, anggap saja anakmu ini tidak pernah menanyakan hal tadi pada
ibunya,” kata Juna yang segera mengerti kalau ibunya ingin membicarakan perihal
ayahnya yang dirinya tanyakan sebelumnya.
“Iya
Nak, ibu mengerti sekali maksudmu tersebut. Jika kamu inginnya begitu, maka ibu
‘kan simpan cerita mengenai ayahmu untuk saat ini. Namun, suatu hari nanti kamu
harus tahu Nak kebenaran soal ayahmu itu seluruhnya. Saat itu datang, ibu harap
kamu nanti tidak membenci ayahmu juga ibumu ini. Kamu adalah anak ibu
satu-satunya, anak kesayanganku. Ibu hanya berpesan agar dirimu janganlah
menjadi seperti ayahmu Nak.” Kata sang ibu dengan memeluk anaknya lembut
diiringi air mata yang membasahi pipinya. Juna hanya terdiam tak mampu berpikir
ucapan sang ibu. Dia hanya mematung dalam pelukan ibunya mencoba mencerna
kata-kata sang ibu.
Saat
itu, pikiran Juna bak pesawat yang berputar-putar di awang-awang tanpa mau
untuk mendarat dikarenakan tidak menemukan tempat. Dirinya yang diam terpaku
karena ucapan sang ibu, hanya mencoba segera menstabilkan diri-menguatkan hati
dan pikiran. Dia tidak ingin sang ibu bertambah sedih jika melihat anaknya ikut
sedih karena perkataan sang ibu.
Setelah
merasa baikan, Juna segera memeluk ibunya juga dan meminta sang ibu segera ke
kamar. Dia meyakinkan ibunya kalau dirinya ‘kan tetap sayang pada sang ibu
apapun yang terjadi. Sang ibu kemudian mencium kening anaknya lalu berjalan
meninggalkan anaknya di dapur. Juna memberikan senyum manisnya agar sang ibu
lebih yakin lagi kalau anaknya tidak sedih mendengar cerita dari ibunya soal
sang ayah. Begitu melihat sang ibu sudah tidak ada, langsung saja Juna terduduk
lemas di lantai dapur. Saat itu, rasa sedih yang tak diinginkan mampir merasuk
dalam jiwanya. Dia menjadi mengerti kenapa ibu Luna tidak suka
padanya-dipastikan ayahnya memiki kisah tidak menyenangkan semasa hidupnya,
begitu pikir Juna.
“Tuhan…,
bisakah Kau bantu diriku, kuatkan hatiku untuk sekarang ini. Aku tak ingin rasa
sedih dan kecewa menguasai diri ini, aku tak ingin ibu melihatnya.
Menjadikannya sedih adalah kesalahan terbesarku, tak ingin kutambah lagi. Oh
Tuhan.., dosa apakah yang ayah lakukan selama hidupnya? Dimanakah dirinya
sekarang ini, ah.., kenapa aku jadi bingung seperti ini ya…,” gumam Juna yang
kemudian segera berdiri dan menyelesaikan kerjaannya. Dia tak ingin terlalu
lama kalut dalam bayang-bayang misteri yang tak pasti. Dia lebih memilih untuk
tetap berpikir positif dan menjalani hari seperti biasa,
“Yup, namaku adalah Arjuna, mau seburuk ‘apa
kisah dari ayahku, atau sekelam apa cerita dari ibuku, aku tak boleh menyesali
semua itu. Aku harus tetap semangat, iya, semangat Juna!! Masih panjang jalan
membentang didepan sana,” sahut Juna menyemangati dirinya sendiri.
Setelah
kerjaan di dapur selesai, Juna kemudian menonton TV sebentar sementara itu
ibunya sudah lebih dahulu beristirahat di kamarnya. Tidak berapa lama kemudian
rasa mengantuk menghampiri dirinya; seharian penuh dengan kegiatan yang
menguras tenaga. Dia pun mematikan TV lalu memeriksa pintu dan jendela rumah,
lantas bersiap untuk menuju ke kemarnya. Juna menyempatkan diri melihat ke
kamar ibunya-melihat ibunya tidak memakai selimut, dia pun masuk ke kamar dan
memberikan selimut ke tubuh ibunya agar hangat.
Di saat
Juna ‘kan keluar, tidak sengaja dirinya melihat ibunya memegang sebuah foto
yang terlihat sudah lama. Secara pelan-pelan dirinya mengambil foto tersebut
untuk ditaruh di meja samping ibunya. Namun, hal yang mengejukan terjadi ketika
Juna melihat foto itu. Di foto tersebut, terlihat 4 orang yang sepertinya
berfoto bersama. Yang membuat Juna lebih terkejut adalah sosok perempuan yang
berada di foto itu, dimana mirip sekali dengan wajah ibu Luna, Bu Devi.
“Ada apa
lagi ini? Siapakah foto perempuan ini. Jika yang ini adalah ibu, mengapa juga
wanita yang mirip ibu Luna ini berfoto bersama ibu dan siapakah pula dua orang
lelaki di samping mereka?” bathin Juna mencoba menggabungkan puzzle-puzzle yang
berceceran-mencoba menguak misteri tentang ayah dan keluarganya. Juna segera
mengeluarkan Hp-nya dan mengambil foto dengan kamera hp-nya. Begitu selesai,
dirinya segera keluar dan menutup pintu kamar ibunya.
“Jika
ini benar adalah ibu Luna, masuk akal jika Bu Devi mengenal ayah dan ibu. Tetapi,
apakah hubungan ibu Luna dan keluargaku ya? Harus kutunjukan kepada Luna besok
agar lebih jelas,” gumam pelan di depan pintu kamar ibunya.
Malam itu menjadi malam yang penuh dengan misteri bagi seorang Juna. Dia semakin ingin mengetahui masa lalu yang ada dalam keluarganya. Sebuah rahasia yang masih tertutup rapat, dimana menjadikan seorang ibu Luna juga seperti ikut didalamnya. Rahasia yang mendekatkan dirinya kepada sebuah kenyataan yang mungkin kelam baginya ataupun ibu dan ayahnya.
Malam itu menjadi malam yang penuh dengan misteri bagi seorang Juna. Dia semakin ingin mengetahui masa lalu yang ada dalam keluarganya. Sebuah rahasia yang masih tertutup rapat, dimana menjadikan seorang ibu Luna juga seperti ikut didalamnya. Rahasia yang mendekatkan dirinya kepada sebuah kenyataan yang mungkin kelam baginya ataupun ibu dan ayahnya.
Komentar
Posting Komentar