Part I
Ini adalah kisah dimana seorang anak yang mencari arti dari sebuah
kehidupan. Kisah dimana begitu pentingnya sebuah ikatan dari keluarga,
persahabatan, cinta, bahkan pencarian mengenai sebuah kenyataan dan kepastian.
Kisah seorang insan manusia yang terkadang berpikir Tuhan tidak adil padanya. Namun,
Tuhan tidaklah tidur ataupun terdiam tanpa rencana. Dia yang menciptakan dan
juga memusnahkan segala yang tercipta di alam semesta, pasti memiliki cerita
untuk dia yang selalu berdoa; meminta kepadaNya.
Sebuah awal bukanlah suatu hal yang kita sebagai manusia
ketahui secara pasti, begitu juga sebuah akhir dari sebuah cerita. Tetapi,
setidaknya dengan mengetahui awal dari sebuah kisah maka kita menjadi tahu
bagaimana sesuatu hal dimulai. Hal yang mampu membuat kita mengerti begitu
pentingnya keberadaan kita di dunia ini. Kisah ini dimulai dari dia yang lahir
ke dunia pada 27 tahun yang
lalu….
“Kamu pasti bisa, Sayang! Ayo, sedikit lagi. Tenang saja,
aku ada disampingmu sekarang ini.” Teriak seorang pria yang berdiri disamping seorang
wanita yang tampak sedang berjuang untuk melahirkan. Dia terlihat terus
memberikan semangat kepada wanita itu agar terus berusaha sekuat mungkin agar
sang bayi segera lahir.
“Oeeekkkkkk….oeeeeekkkkk…..” akhirnya jeritan sang bayi
terdengar juga dikamar yang hanya ada seorang pria dewasa dan juga wanita yang
ditolong proses kelahiran bayi-nya oleh seorang wanita tua dimana biasa
membantu kelahiran di desa atau biasa disebut sebagai dukun bayi.
“Cah lanang, Nduk. Wes, Mbok e nggak rugi tenan lek jam siji
isuk kudu nang mrene,” kata sang dukun bayi sembari menyerahkan sang bayi ke
samping ibunya.
Pria yang ada disampingnya hanya berdiri dengan melihat si
kecil yang disusui ibunya dan senyuman tampak terpahat indah di bibirnya. Dia lantas
keluar bersama dengan sang dukun bayi dan bersalaman sambil menyerahkan amplop
yang berisi uang sebagai upah untuk sang dukun bayi. Dia pun mengucapkan
terimakasih dan dibalas dengan pesan agar pria itu dapat menjaga sang bayi
dengan baik-baik. Pria itu pun menganggukan kepalanya dengan diiringi kepergian
sang dukun bayi.
“Akhirnya anak kita lahir juga ya. Aku sudah menunggu lama
untuk kelahirannya dan akhirnya penantian itu terbayar sudah.” Pria itu mencium
kening sang bayi kemudian berpindah mencium kening sang ibu bayi yang masih
tergeletak lemas di atas ranjang.
“Tapi Mas…, bukankah anak ini adalah…”
“Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi Sayang! Aku sudah
tidak memikirkan hal itu lagi. Yang sekarang aku tahu kau adalah istriku dan
dia adalah anakku yang akan menjadi jagoan kita.” Pria itu lantas mengambil
sang bayi dari ibunya dan menggendongnya dengan lembut. Dia lagi-lagi mencium
kening si kecil sembari berbicara pelan pada si jabang bayi yang terus
memandang ke arahnya.
“Mulai sekarang nama kamu adalah Juna. Arjuna Putra Ramadhan
adalah nama lengkapmu Nak.”
“Nama yang bagus itu, bagus sekali Mas. Tapi kenapa harus
ada Ramadhan segala Mas? Bukankah ini masih belum masuk bulan puasa. Selain
itu, bukankah lebih baik Mas membisikan adzan dan iqomat untuk Juna dahulu?”
Sang ibu meminta pada pria itu untuk melantukan adzan dan iqomat di kedua
telinga si kecil. Dia berharap sang anak bisa mengenal agama sedari kecil
semenjak dirinya dilahirkan di dunia.
Lima tahun sudah
berlalu dan Juna kini menjadi anak yang ceria dengan ibunya yang terus berada disampingnya.
Dia menjadi anak yang begitu murah senyum kepada siapa saja. Di rumahnya, dia hanya
tinggal berdua dengan sang ibu yang selalu menjaga dan juga menyayangi-nya
sepenuh hati. Untuk menambah suasana agar lebih ramai, sang ibu pun berencana
mengontrakan rumah yang ada di belakang rumahnya. Rumah kosong yang merupakan
peninggalan sang suami yang sudah lama tidak ada bersamanya. Hanya dalam
hitungan hari, sudah banyak orang yang berniat menempati rumah yang dia ingin
sewakan itu. Sang ibu pun tidak sembarang memilih siapa yang boleh menempati
rumah tersebut, sampai pada sebuah kesempatan dirinya cocok dengan sebuah
keluarga yang berasal dari Madiun.
“Bagaimana Mbak? Niatnya mau mulai kapan akan ditempati
rumah yang saya sewakan itu.”
“Iya Mbak Lastri, kalau tidak ada halangan insyaallah besok
atau lusa saya bakal pindahan kesini. Oh iya, mungkin Andra bakal jadi teman
baik anak Mbak. Mereka berdua itu seumuran ya kalau tidak salah.”
“Heh.., Mbak Putri ini bagaimana sih. Bukannya Andra lebih
tua 2 tahun daripada Juna. Mungkin bisa dibilang jadi kakaknya atau seperti
saudara gitu. Kebetulan Juna anak tunggal saya sementara ini.”
“Ah Mbak Lastri ini. Segera tambah momongan lah Mbak! Masak
masih muda kok nggak mau nambah lagi?”
“Halah…, Mbak Putri sendiri juga masih satu belum nambah lagi.
Kalau saya dengan siapa? Apakah dengan suami Mbak Putri, boleh....” Mbak Lastri
tertawa kecil yang disambut dengan wajah cemberut dari Mbak Putri. Mereka
lantas tertawa bersama-sama tak lama kemudian dan segera berjalan masuk ke
dalam rumah Mbak Lastri.
Kini rumah belakang telah ditinggali keluarga Mbak Putri
yang notabene sang suami bekerja di Surabaya dan pulang seminggu sekali. Namun
karena ada Mbak Lastri, mereka sering duduk di halaman depan sembari mengasuh
anak masing-masing. Juna ataupun Andra pun tidak butuh waktu lama untuk menjadi
akrab karena umur yang tidak berbeda jauh. Walaupun Juna lebih muda, namun dia
terlihat lebih dewasa dan juga murah senyum ketimbang Andra yang lebih banyak
nakalnya. Tidak jarang Andra mengajak Juna bermain kejar-kejaran lantas
mendorong Juna hingga jatuh dan menangis. Mbak lastri pun sering mengingatkan
namun tidak digubris oleh Andra. Ibu Andra pun hanya bisa meminta maaf atas kenakalan
yang dilakukan sang anak. Dia juga selalu mengingatkan anaknya agar sering
meminta maaf pada Juna jika dirinya berbuat salah pada anak Mbak Lastri
tersebut.
Dua tahun berjalan
dan kini Juna telah duduk di kelas satu SD. Dia bersekolah di sekolah yang
tidak jauh dari tempat dia tinggal. Kebetulan juga Mbak Putri dan keluarga juga
masih menempati rumah Mbak Lastri yang disewakan sehingga anak mereka hampir
setiap hari berangkat sekolah bersama.
“Mas Andra.., ayo kita segera berangkat! Sudah jam setengah
tujuh sekarang. Nanti kalau telat bisa disuruh berdiri di depan tiang bendera
lagi lho.” Juna melihat jam tangannnya dan nampak rasa was-was terlukis di
wajahnya. Dikarenakan Andra yang telat bangun, pada hari sebelumnya mereka
berdua harus dihukum untuk hormat di depan tiang bendera sekolah. Mereka tidak
berani memberitahukan itu pada sang ibu.
Di sekolah, Juna merupakan salah satu anak yang pandai. Dia selalu
mendapatkan nilai yang bagus sehingga banyak teman yang selalu dekat dengannya.
Entah dekat karena berharap agar dimudahkan untuk diberi contekan atau memang
dekat karena rasa pertemanan. Berbeda dengan Juna, Andra terkenal dengan
kejahilan-nya di sekolah. Walaupun hanya sebatas nakal anak-anak, dirinya memang
sering berbuat usil pada temannya. Hal itu menjadikan-nya anak yang sering
dijadikan perhatian para guru di sekolahnya. Tetapi uniknya Andra malah terkenal
dikalangan anak-anak perempuan di kelasnya. Mungkin karena hobby-nya yang suka
dengan olahraga ataupun kenakalannya yang malah terliaht keren di mata para
anak perempuan di kelas.
Juna dan Andra hanya berbeda satu kelas. Juna duduk di kelas
2 dan Andra di kela 3, Karena itu mereka nyaris bertemu tiap hari dikarenakan
kelas yang berdampingan. Tidak jarang pula banyak yang berpikir kalau mereka
berdua adalah saudara karena berada pada rumah yang terlihat di satu lokasi.
Namun untuk teman yang satu kelas hal tersebut sudah tentu diketahui, terutama
Andra yang selalu menyebutkan dirinya adalah “Anak Madiun” dengan lantang. Saat
mengatakan itu tidak jarang temannya malah memberikan julukan khusus pada
dirinya dengan sebutan MANJUK yang merupakan singkatan Madiun-Nganjuk tempat
sekarang dirinya tinggal. Andra pun tidak merasa keberatan dengan sebutan yang
diberikan padanya itu, bahkan Juna sendiri juga sering memanggil dirinya dengan
sebutan tersebut. Apa-apa yang dilakukan baik Juna ataupun Andra itu menjadikan
ibu mereka sering heran dan tak habis pikir dengan tingkah-polah anaknya.
“Juna..! Kamu pulang duluan saja. Aku masih mau bermain layang-layang
dengan anak-anak. Tolong kamu kasih tahu ibuku kalau aku ada kerja kelompok
ya.”
”Haduh, Mas…. Bukannya Juna nggak mau, tapi Tante Putri
pasti sudah tahu kalau anaknya pasti sedang bermain, bukankah sudah
berkali-kali. Kalau sekedar satu atau dua kali sih mungkin tidak mencurigakan
tapi ini sudah puluhan kali dah.” Juna berkata dengan memandang serius pada
Andra. Dia lantas beranjak pergi meninggalkan temannya itu. Merasa yang
dikatakan Juna ada benarnya, Andra pun meminta maaf pada temannya karena tidak
bisa ikut bermain laying-layang dan segera menyusul Juna untuk ikut berjalan
pulang.
Hari Sabtu adalah hari yang paling disenangi oleh Andra karena
pada hari Sabtu dan Minggu, ayahnya selalu pulang dan dia bisa bermain
sepuasnya dengan sang ayah. Ketika sang ayah ada di rumah, tidak jarang pula
sang ayah mengajak Juna untuk ikut bermain bersama. Mereka bertiga sering
bermain di aloon-aloon atau sekedar jalan-jalan di swalayan atau arena bermain
anak-anak di Kota. Hal-hal yang dilakukan ayah Andra membuat ibu Juna begitu
senang. Juna memang sudah lama tidak mengenal sosok seorang ayah itu bagaimana.
Namun dengan keberadaan Mas Dion yang merupakan ayah Andra, anaknya jadi sedikit
tahu ayah itu seperti apakah terlihat. Terkadang Juna mempertanyakan keberadaan
sang ayah namun hanya dibalas senyuman dan kecupan lembut sang ibu tanpa bicara
sepatah katapun. Pernah pula ibu Andra menyarankan untuk dirinya menikah lagi
namun selalu tidak ditanggapi serius. Dia merasa keberadaan Juna sudah begitu
cukup baginya.
Dua tahun kemudian,
ayah Andra memutuskan untuk pulang ke Madiun karena sang ibu yang sudah tua dan
dalam kondisi yang sakit cukup serius. Ketika itu, Andra duduk di kelas 5
sekolah dasar, dan mau tidak mau Juna harus berpisah dengan Andra yang sudah
dirinya anggap layaknya saudaranya sendiri ataupun Pak Dion yang selama ini
menjadi sosok ayah untuknya. Ibu Juna pun tidak bisa berbuat banyak untuk
menahan kepergian keluarga Andra karena memang mereka sudah cukup lama menyewa
rumahnya dan memang mereka memiliki alasan yang kuat untuk pulang ke rumah
mereka di Madiun.
“Salam buat Ibu Mas Dion ya, Mbak.”
“Iya Mbak. Terimakasih lho sudah nyaris 5 tahun saya dan Mas
Dion juga Andra diperbolehkan tinggal di rumah Mbak Lastri. Saya sudah
menganggap Mbak Lastri juga Dik Juna seperti keluarga sendiri. Saya benar-benar
berat Mbak meninggalkan kalian berdua.” Ibu Andra mengucapkan itu dengan air
mata yang terus berlinang membasahi wajahnya. Sang suami hanya mampu memeluk
erat sang istri dengan memberikan kata-kata yang diharapkan mampu menenangkan
istrinya.
“Iya Mbak, itu benar yang diucapkan Mas Dion. Madiun dan
Nganjuk tidak lah sebuah tempat yang begitu jauh. Kalaupun ada waktu silahkan
bermain ke sini. Pasti saya buka pintu rumah selebar mungkin Mbak. Jadi jangan
bersedih karena kepulangan kalian. Andaikan ada yang sedih pastinya Juna,
anakku ini yang pasti merasa kehilangan kalian semua. Bukankah begitu Nak?”
“Tidak Bu! Juna tidak sedih kok. Juna yakin kalau kita bakal
ketemu lagi suatu hari nanti. Sekarang sudah ada instagram, FB, WA, SMS,
Telpon, bahkan video call juga. Jadi jarak nggak bakal buat Juna kehilangan
Tante Putri, Om Dion ataupun Mas Andra.” Juna mengatakan dengan penuh keyakinan
dan tampak dirinya menguatkan diri agar tidak menangis karena sebuah drama
perpisahan.
Juna dan ibunya mengantarkan keluarga Andra sampai ke
stasiun kereta di tengah Kota. Jadwal keberangkatan pun akhirnya tiba dan
mereka saling berpelukan menandakan kalau perpisahan benar-benar terjadi. Andra
dan orangtuanya pun masuk ke dalam kereta dan mereka melambai-lambaikan tangan
dari balik jendela. Kereta-pun berangkat, Juna dan ibunya tetap melambaikan
tangan mereka sampai kereta hilang dari pandangan mata.
“Ibu…, bisakah kita bertemu lagi dengan Tante Putri, Om
Dion, dan juga Mas Andra suatu hari nanti ya?”
“Kamu bicara apa lho Nak. Kita nanti pasti bisa tetap berhubungan
kok, kalau perlu kita dapat bermain ke rumahnya juga bisa jika kamu nanti
liburan sekolah. Bagaimana menurutmu Nak?” Ibu Juna menghibur anaknya dengan
menggandeng tangan anaknya dan berjalan menuju ke parkiran untuk segera pulang.
Komentar
Posting Komentar