Langsung ke konten utama

Juna Stories, Lonelly Is Something....

Part V

Mentari telah muncul di ufuk timur menyambut mereka yang ingin menyambut hari dalam sebuah roda kehidupan. Hari itu Juna sengaja tidak membahas kejadian malam hari sebelumnya, dia tidak ingin menjadikan ibunya sedih kembali; walaupun sang ibu pasti juga sudah mengerti ‘apa yang dipikirkan anaknya. Setelah sarapan, Juna lekas berangkat menuju ke sekolah dengann sepeda kesayangannya. Sang ibu tampak melambaikan tangannya sampai sang anak hilang dari pandangan mata.
Selama perjalanan, Juna begitu ingin segera sampai ke sekolah dan bertemu dengan Luna untuk menanyakan perihal foto yang dirinya lihat di tangan ibunya. Saat itu, dirinya bertemu Boim di tengah perjalananya menuju sekolah.
“Selamat pagi, Kawan. Bagaimana hasil pertandingan sekolah kita melawan Putra Harapan?” Tanya Boim yang mengayuh sepedanya di sisi samping kiri Juna.
“Syukurlah, kemarin kita memenangkan pertandingannya Teman. Tapi, aku akui kalau Putra Harapan memang bermain sangat bagus sekali. Permainan mereka benar-benar cerdik, selai itu kerjasama antar anggota team sangat bagus dan kuat.” Cerita Juna kepada Boim secara terperinci sambil terus mengayuh pedal sepedanya. Mereka berdua dengan tanpa terasa telah sampai ke sekolahnya dan segera menuju ke tempat parkir sekolah. Di saat berjalan menuju kelas, kedua anak itu bertemu dengan Yudha yang juga baru saja datang.
“Hai Yud! Baru datang juga ya dirimu? Eh, ada yang ingin aku tanyakan pada Andika, sudah datang atau belum anak itu,” sapa Juna berjalan di samping Yudha. Di sebelahnya juga ada Boim yang ikut berjalan bersama mereka. Boim tidak terlalu dekat dengan Yudha karena mereka berbeda kelas, sedangkan Juna sangat dekat dengan Yudha karena mereka berada dalam satu team basket sekolah.
“Sepertinya belum tapi jujur aku juga tidak tahu pasti. Memangnya ‘apa yang ingin kau tanyakan teman? Apakah hal ini mengenai basket ataukah mengenai peristiwa kemarin sore itu,” ujar Yudha mencoba memperjelas pertanyaan temannya itu.
Ketika itu Juna menghentikan langkahnya sebentar dan menjelaskan kalau ‘apa yang dirinya pertanyakan adalah mengenai pertandinan basket selanjutnya. Yudha hanya mendengarkan setiap ucapan temannya itu, hanya berkomentar jika ada yang perlu dikomentari. Begitu Juna selesai dengan yang dirinya utarakan, giliran Yudha dengan enteng menanyakan bagaimana respon orangtua Luna di saat anaknya diantarkan seorang anak SMP pada malam hari. Tentu ucapan Yudha membuat Boim terkejut seketika, dirinya seketika mengarahkan pandangannya ke arah Juna.
“Kamu mengantarkan Una? Sampai malam hari lagi.., bisakah kamu jelaskan padaku Teman,” ujar Boim meminta jawaban dari sang teman.
Yudha sedikit heran dikarenakan teman satu kelas Juna malah tidak mengetahui seputar kedekatan Juna dengan Luna. Mendengar ucapan Yudha, secara langsung Boim memberikan penjelasan kepada rekan basket Juna tersebut.
“Sorry, Bro, bukannya kami tidak mengetahui soal hal tersebut. Hanya saja, selama ini mereka berdua hanya saling diam jika ditanyakan mengenai kedekatan hubungan mereka, padahal teman-temannya satu kelas mendukung sekali jika mereka pacaran,” tukas Boim yang membuat Juna hanya bisa malu-diam di depan kedua temannya itu.
“Hahaha ternyata seperti itu ya dirimu Teman. Malu-malu mau tapi sok jaim jika ditanya temannya,” sindir Yudha menambah Juna semakin memerah raut wajahnya.
“Sudah, sudah, jangan terus membahas hal nggak penting seperti itu. Ok, aku dengan temanku ke kelas dulu ya, nanti kalau Andika udah datang, sampaikan kalau dicari Juna, gitu saja.” Pesan Juna kepada Yudha yang menganggukan kepala-nya lantas segera masuk kelasnya. Sementara itu, Juna dan Boim masih berjalan ke kelas mereka.
“Bro, kapan kalian jadiannya? Kenapa kami tidak mengetahui selama ini,” Tanya Boim menanyakan kepastian kedekatan kedua temannya itu.
“Wah, kamu malah menanyakan hal itu sekarang. Aku dan Una masih kemarin sore saja kok jadiannya. Kami masih belum menikmati masa-masa pacaran, toh masih baru kemarin. Itu saja sudah membuatku dilema Bro,” ujar Juna pelan sambil melihat Luna yang sudah ada di kelas. Dia berhenti dan berdiri di depan pintu memandang Luna dari kejauhan.
“Dilema?? Kenapa, Bro, apakah ada masalah lho,” tukas Boim keheranan.
“Eh, tidak ada Teman. Mending jangan membicarakan hal itu dulu ya, lekas masuk saja ke kelas. Oh iya, jangan memberitahu teman-teman kalau aku dan Una kemarin jadian. Aku tidak ingin membuat kegaduhan di kelas,” kata Juna khawatir dia dan Luna ‘kan jadi bahan bully-an teman-temannya.
Juna dan Boim segera masuk ke kelas, segera duduk di kursi masing-masing. Pagi itu, Luna terus memandang ke arah Juna yang duduk dibangku paling belakang, sedangkan Luna ada di depan. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu pada pacarnya tersebut. Sementara itu, Juna hanya duduk dengan kepala tertunduk ke bawah melihat foto di hp-nya.
“Lihat apa kamu itu Teman! Kok serius banget sepertinya,” Tanya Boim yang merasa heran pada temannya itu. Boim memang duduk di bangku sebelah Juna, sehingga jelas terlihat jika Juna ada bersikap aneh atau lainnya.
“Eh….bukan apa-apa Teman. Hanya foto-foto lama yang ada di hp saja, entah kenapa tiba-tiba ingin melihat-lihat foto yang tersimpan ada apa saja,” jelas Juna bealasan.
“Ya udah kalau memang begitu. Aku lihat sejak tadi kamu seperti orang kebingungan, gampang tidak nyambung kalau diajak bicara. Masa’ jadian dengan Una langsung menjadikan kamu penuh dengan tekanan bathin. Kan masih pacaran, kecuali hubungan kalian bermasalah, seperti ada dendam keluarga atau lainnya, akhirnya cinta tidak direstui. Hahaha, seperti di sinetron-sinetron gitu,” celetuk Boim merasa dirinya konyol bicara seperti itu. Dia tertawa lepas sampai-sampai teman depannya menegurnya.
Ketika itu, Juna menangkap kata-kata temannya itu. Walaupun yang dikatakan Boim sekedar bercanda, Juna berpikir lain. Dia mencurigai jika keluarganya dan keluarga Luna memang pernah ada masalah sehingga ibu Luna tidak suka dengan keluarganya. Kelas pun dimulai, Juna hanya berharap segera berakhir kelas hari itu dan segera pulang sekolah. Dia tidak sabar ingin menanyakan perihal gambar yang diambil dari foto lama ibunya.
Tepat pukul 14.00 kelas hari itu akhirnya berakhir juga; semua siswa-siswi bersiap untuk segera pulang. Sebelum anak-anak keluar kelas semua, Juna mendekati Luna dan mengatakan untuk duduk sebentar di Taman Sekolan setelah keluar kelas. Luna pun mengiyakan ucapan dari Juna itu. Di saat semua sibuk untuk segera ke parkiran dan pulang, Juna dan Luna saat itu malah duduk berdua di Taman Sekolah. Sebelum itu, Juna mampir ke kantin sekolah yang masih buka; membeli 2 botol minuman dingin, lekas kembali ke tempat dimana Luna sudah menunggu.
“Minum dulu biar nggak kering tenggorokanmu Una,” ujar Juna sambil memberikan minuman pada pacarnya itu.
“Terimakasih, Jun. wah, kamu tahu banget kalau aku suka rasa melon. Eh, mau ngobrol ‘apa kita di sini? Kenapa tidak sekalian dimana gitu.., yang penting tidak di kawasan sekolah.” Kata Luna diselingi dirinya meminum minuman pemberian Juna. Dia merasa kurang nyaman jika harus berduaan di sekolah, apalagi jam sekolah telah berakhir.
“Ya maaf dah kalau begitu, Una. Tapi aku janji ini tidak lama kok, hanya ada yang ingin kuperlihatkan padamu sebentar. Coba lihat foto di hp ku ini.., kamu merasa tidak wanita yang sebelah kiri ini seperti ibumu,” kata Juna menunjuk foto di hp-nya. Luna melihat foto yang ditunjukan Juna; mengamati, dan setelah itu dia memberikan pendapatnya.
“Walau tidak sama persis dengan yang sekarang, tapi aku berpikir kalau orang ini sepertinya memang foto ibuku. Kamu bisa dapat foto ini darimana Jun? Kemudian, siapa juga 3 orang yang ada di foto ini,” ujar Luna begitu heran.
“Aku tidak tahu yang lelaki ini siapa, tapi aku tahu pasti kalau wanita disamping ibumu adalah ibuku.” Jawab Juna yang langsung membuat pacarnya itu terkejut. Tentu saja Luna merasa hal itu tidak mungkin terjadi karena dia tidak pernah melihat ibunya berhubungan dekat dengan ibu Juna.
“Kamu salah mungkin Jun. Bagaimana mungkin seorang teman lama jika bertemu tidak saling kenal atau bermain ke rumah satu ‘sama lainnya. Kamu mendapatkan foto ini darimana?”
“Dari tangan ibuku langsung.” Jawab Juna singkat yang seketika langsung membuat Luna terdiam tanpa kata.
Juna melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul 14.30 WIB. Dia pun menyarankan untuk bersiap pulang, terutama bagi Luna. Namun, sebelum itu Juna meminta agar pacarnya itu mencari tahu seputar ibunya di rumah. Luna menyetujui permintaan Juna dan ‘kan membantu semampunya. Mendengar kata-kata dari pacarnya, membuat Juna begitu senang; mengecup lembut kening Luna, lantas segera bergegas ke tempat parkir sekolah.
“Hm… Jun, ada yang ingin aku sampaikan padamu sedari tadi,” gumam pelan Luna saat berjalan menuju ke tempat parkir sekolah.
“Mengenai apa lho? Kok wajahmu seperti orang yang merasa ada salah saja,” Tanya Juna yang kemudian meraih tangan Luna dan menggenggamnya erat. Dia melakukan itu agar pacarnya itu menjadi merasa nyaman.
“Aku memang salah Jun. aku meminta maaf atas ketidakmampuanku menjelaskan ke ibuku soal peristiwa sore kemarin itu. Aku melihat kalau kau sedang dimarahi ibuku, dan aku hanya diam dibalik tembok melihatnya. Aku minta maaf atas kebodohanku juga atas sikap ibuku padamu,” ucap Luna dengan memeluk Juna dan tampak matanya berkaca-kaca seperti bakal menangis.
“Sudah.., kau tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah darimu padaku, mungkin saja itu hanya salah komunikasi saja. Hal seperti itu wajar dilakukan seorang ibu yang punya anak perempuan. Mungkin ibuku juga ‘kan melakukan hal yang sama jika punya anak perempuan.” Jelas Juna mencoba memberikan penjelasan kepada Luna agar dirinya tenang.
“Benar kamu tidak marah Jun…”
“Iya…, sumpah dah aku tidak marah atau dendam pada kamu atau bahkan ibumu.” Kata Juna untuk lebih meyakinkan atas ucapannya pada Luna.
Luna pun tersenyum karena ternyata Juna tidak marah padanya. Mereka berdua lantas segera mengeluarkan sepeda masing-masing-pulang ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan, mereka saling bercanda dengan mengayuh sepedanya pelan. Kedua anak itu tidak terganggu dikarenakan memang telah tersedia jalur khusus sepeda sehingga para pengguna sepeda dapat bersepeda dengan tenang. Di saat berhenti di perempatan jalan, tiba-tiba Juna merasa ada yang mengawasi mereka dari kejauhan. Dia pun segera menoleh ke belakang namun tidak melihat siapa-pun di sepanjang jalan itu, yang ada hanya dia dan Luna serta mobil di samping mereka.
“Kenapa menoleh belakang, ada yang jatuh atau ketinggalan ya?” Tanya Luna sekedar ingin mengetahui kenapa pacarnya secara tiba-tiba membalikan kepalanya ke belakang.
“Ah…, tidak ada apa-apa, ayo, segera jalan lagi, sudah hijau lho!” ujar Juna sambil segera mengayuh sepedanya lagi,”Mungkin hanya perasaanku saja tadi,” ucapnya dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Juna's Stories, Lonely Is Something....

Part IV  “Jangan cemberut seperti itu dong…, tenang saja, pasti nanti bakal ketemu. Itu bukankah hanya sebuah harmonika, Juna. Kalau pun nanti tidak ketemu, kita bisa beli yang lainnya,” ujar Luna menghibur. Dia berharap Juna tidak terlalu memikirkan perihal harmonika pemberiannya yang hilang tersebut. “Tapi benda itu adalah hadiah darimu Luna.., tidak tergantikan nilainya. Kalaupun kita beli lagi, maka hal tersebut bakal berbeda arti nantinya. Kenapa kamu tadi malah menghentikan diriku yang masih berusaha mencari harmonika darimu?” “Kenapa?? Kamu tidaklah lihat ya Juna, ini sudah jam berapa. Aku mengerti sekali kalau harmonika itu sangat berharga, namun jangan sampai benda itu menjadi segalanya bagimu. Cintaku padamu tidak lah sekedar harmonika, cintaku ada disini…dalam hatiku ini.” Luna menaruh kedua tangannya di atas dadanya. Kemudian dirinya meminta Juna menunduk sedikit lantas dengan pelan mencium keningnya juga kedua pipinya dan terakhir adalah bibir kecil Juna. “Oee...

Juna's Stories, Lonely Is Something....

Part III “Ayo, Juna…kamu pasti bisa!!” Luna memberikan semangat kepada Juna yang saat itu sedang bertanding basket melawan team SMP Putra Harapan. Poin sementara masih 80-67 dimana SMP putra Harapan masih lebih unggul sedangkan pertandingan telah berjalan setengah jalan. Juna dan teman-teman dari team basket SMP Citra Bangsa masih terus berusaha menambah angka agar bisa menang atau setidaknya membuat poin menjadi berbeda tipis. Beberapa anggota team sedikit kurang lepas dalam bermain dikarenakan mereka merasa tidak yakin bisa menang tanpa ada kapten team, yaitu Andika. Melihat hal tersebut, Juna meminta waktu sebentar untuk minum dan juga mengatur strategi. “Kenapa kalian berdua tidak semangat, teman..! Apakah ini disebabkan karena Andika tidak bermain bersama kita?” Juna mengatakan hal tersebut sambil melemparkan dua botol air mineral kepada Irwan juga Yogi, yang mana merupakan anggota team basket Citra Bangsa. Juna menganggap permainan dua temannya itu kurang total sejak awal p...

Juna's Stories, Lonely is something.....

Part I Ini adalah kisah dimana seorang anak yang mencari arti dari sebuah kehidupan. Kisah dimana begitu pentingnya sebuah ikatan dari keluarga, persahabatan, cinta, bahkan pencarian mengenai sebuah kenyataan dan kepastian. Kisah seorang insan manusia yang terkadang berpikir Tuhan tidak adil padanya. Namun, Tuhan tidaklah tidur ataupun terdiam tanpa rencana. Dia yang menciptakan dan juga memusnahkan segala yang tercipta di alam semesta, pasti memiliki cerita untuk dia yang selalu berdoa; meminta kepadaNya. Sebuah awal bukanlah suatu hal yang kita sebagai manusia ketahui secara pasti, begitu juga sebuah akhir dari sebuah cerita. Tetapi, setidaknya dengan mengetahui awal dari sebuah kisah maka kita menjadi tahu bagaimana sesuatu hal dimulai. Hal yang mampu membuat kita mengerti begitu pentingnya keberadaan kita di dunia ini. Kisah ini dimulai dari dia yang lahir ke dunia pada 27 tahun yang lalu…. “Kamu pasti bisa, Sayang! Ayo, sedikit lagi. Tenang saja, aku ada disampingmu sekara...