Part V Mentari telah muncul di ufuk timur menyambut mereka yang ingin menyambut hari dalam sebuah roda kehidupan. Hari itu Juna sengaja tidak membahas kejadian malam hari sebelumnya, dia tidak ingin menjadikan ibunya sedih kembali; walaupun sang ibu pasti juga sudah mengerti ‘apa yang dipikirkan anaknya. Setelah sarapan, Juna lekas berangkat menuju ke sekolah dengann sepeda kesayangannya. Sang ibu tampak melambaikan tangannya sampai sang anak hilang dari pandangan mata. Selama perjalanan, Juna begitu ingin segera sampai ke sekolah dan bertemu dengan Luna untuk menanyakan perihal foto yang dirinya lihat di tangan ibunya. Saat itu, dirinya bertemu Boim di tengah perjalananya menuju sekolah. “Selamat pagi, Kawan. Bagaimana hasil pertandingan sekolah kita melawan Putra Harapan?” Tanya Boim yang mengayuh sepedanya di sisi samping kiri Juna. “Syukurlah, kemarin kita memenangkan pertandingannya Teman. Tapi, aku akui kalau Putra Harapan memang bermain sangat bagus sekali. Permainan mer...
Part IV “Jangan cemberut seperti itu dong…, tenang saja, pasti nanti bakal ketemu. Itu bukankah hanya sebuah harmonika, Juna. Kalau pun nanti tidak ketemu, kita bisa beli yang lainnya,” ujar Luna menghibur. Dia berharap Juna tidak terlalu memikirkan perihal harmonika pemberiannya yang hilang tersebut. “Tapi benda itu adalah hadiah darimu Luna.., tidak tergantikan nilainya. Kalaupun kita beli lagi, maka hal tersebut bakal berbeda arti nantinya. Kenapa kamu tadi malah menghentikan diriku yang masih berusaha mencari harmonika darimu?” “Kenapa?? Kamu tidaklah lihat ya Juna, ini sudah jam berapa. Aku mengerti sekali kalau harmonika itu sangat berharga, namun jangan sampai benda itu menjadi segalanya bagimu. Cintaku padamu tidak lah sekedar harmonika, cintaku ada disini…dalam hatiku ini.” Luna menaruh kedua tangannya di atas dadanya. Kemudian dirinya meminta Juna menunduk sedikit lantas dengan pelan mencium keningnya juga kedua pipinya dan terakhir adalah bibir kecil Juna. “Oee...